Takdir dan Nasib

2018 ini aku sering sekali sakit, dihitung-hitung sudah 4 kali aku sakit, hal yang sangat jarang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, pekerjaanku memang sedang dalam fase sibuk-sibuknya, selain tahun ini adalah puncak dari perpindahan kurikulum pendidikan, aku pun disibukan dengan banyaknya pekerjaan yang seharusnya bukan tugasku, yang akhirnya menjadi tugasku. 

Juga masalah diluar pekerjaan, dikepalaku tersimpan banyak masalah, masalah yang sulit aku terjemahkan dalam kata yang pas agar dapat di fahami oleh pembaca. Diantara takdir atau nasib. Berbicara mengenai takdir dan nasib bagiku takdir merupakan sebuah jalan yang tidak dapat dipungkiri dan tegas adanya kita tidak bisa melawan takdir, kita juga tidak bisa memprotes dengan adanya takdir a atau takdir b, berbeda dengan nasib, aku meyakini bahwa nasib adalah sebuah hukum sebab akibat dalam konteks yang sangat sederhana, bagiku nasib adalah sudut pandang lain dalam menerjemahkan "air mengalir dari hulu ke hilir" atau "apa yang kau tanam itulah yang kau tuai" memang jika dilihat lebih dalam lagi takdir dan nasib hanya terpisah oleh sekat yang tipis, aku tidak akan menyatukan ini aku akan biarkan ada sekat diantara itu, ini cara aku melihat takdir dan nasib. 

Dari sekian masalah, ada satu masalah yang selalu menjadi temanku disepanjang waktu, dia selalu memeluk konsentrasiku, dia memperdaya fikiranku, membuatku harus selalu memikirkannya, dia dapat berubah menjadi kafein dalam malamku agar mataku terjaga setiap malamnya, dia selalu memundurkan waktu tidurku dan memperlambat waktu bangunku, dia berhasil menghipnotis syaraf laparku yang menyebabkan waktu makan ku sering berubah-ubah, dan dia berteman akrab dengan sistem kekebalan tubuhku dengan mengatur siklus 'sakit' setiap 2 bulan sekali, jika rindu? Dia akan mengatur sedikit lebih cepat menjadi 1 bulan sekali. Aku terganggu dengan caranya mempermainkan pola hidupku, fikiranku, perasaanku, emosiku, yang kemudian aku katakan bahwa dia adalah perkara nasibku.

beruntung aku memiliki dia yang lainnya, bukan dia sebagai masalah, namun dia sebagai nutrisi dalam hidupku, dia adalah sukma dalam hati, dia adalah dewi penolong dalam siangku, dia adalah peri kecil dengan cahaya pada sayapnya yang selalu menjaga malamku dari kehangatan, dia adalah nafasku, dia selalu menjagaku dari segala hal negatif, dia selalu membuatku nyaman, dan jika aku sakit? Dia adalah perkara takdirku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemanan

Lukis ND